Home Top News Dampak Terbakarnya Kilang Minyak PT Pertamina di Indramayu, Terhadap Perekonomian dan Tindakan...

Dampak Terbakarnya Kilang Minyak PT Pertamina di Indramayu, Terhadap Perekonomian dan Tindakan Pemerintah

72

Tepat pada hari Senin, 29 Maret 2021 pukul 00.45 dini hari, terjadi kebakaran kilang minyak PT Pertamina yang berada di Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Sebelumnya pada hari Minggu, 28 Maret 2021 sempat tercium adanya bau kebocoran gas yang sangat menyengat.

Kebakaran tersebut juga menimbulkan ledakan sangat besar yang terdengar hingga radius lima kilometer lebih. Kabidhumas Polda Jawa Barat menyatakan bahwa terdapat dua kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran tersebut, yaitu disebabkan oleh kebocoran minyak atau adanya petir yang menyambar ke tangki minyak. Dalam peristiwa kebakaran ini, diperkirakan terdapat 5 orang yang mengalami luka bakar berat dan 15 lain mengalami luka ringan.

Warga yang tinggal dilingkungan sekitar tempat lokasi kejadian langsung dievakuasi untuk meminimalisir adanya korban tambahan. Terdapat tempat pengungsian sementara korban yaitu Pendopo Kabupaten Indramayu dan Islamic Center Indramayu.

Sampai saat ini tercatat terdapat lima warga yang terluka akibat tersambar api. Selain menimbulkan korban, ledakan ini juga menyebabkan rumah warga menjadi retak. Walaupun banyak warga yang mengungsi, di tempat pengungsian tetap diterapkan protokol kesehatan untuk menghindari Covid-19.

Dengan adanya kasus ini, PT Pertamina akan tetap mengoptimalkan stok dari kilang lain yang akan segera disalurkan ke berbagai daerah yaitu DKI Jakarta dan Cikampek. Direktur logistik dan Infrastruktur Mulyono mengatakan bahwa saat ini stok BBM negara berada pada level yang bisa dibilang aman dan beliau menghimbau agar tidak perlu panik.

Ia juga memberi info bahwa stok gasoline saat ini ialah sebanyak 10,5 juta barel yang diperkirakan akan cukup untuk 27 hari atau 28 hari kedepan. Untuk stok solar, berada pada level 8,8 juta barel yang diperkirakan akan cukup untuk 20 hari kedepan. Dan untuk avtur berada pada level 3,2 juta barel atau cukup untuk 74 hari kedepan.

Leonardo sebagai Kepala Greenpeace Indonesia mendesak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk mengajukan tuntutan terhadap PT Pertamina yang disebut sebagai pelaku berulang bencana lingkungan.

Menurutnya, investigasi juga harus dijalankan dalam kasus ini, PT Pertamina harus dikenakan tanggung jawab secara hukum karena adanya praktik yang menyebabkan cedera ataupun kecelakaan yang bisa membahayakan nyawa pekerja dan masyarakat dilingkungan sekitar. Insiden kali ini juga menghancurkan perekonomian masyarakat dan ekosistem darat dan juga perairan yang ada di sekitar.

Artikel ; Maharani Sekar Arum